Sakit Sakitan

00.46 0 Comments A+ a-

 

Foto oleh Ir Solyanaya

--------


Kemarin aku dilanda demam. Suhunya mencapai 108 F kalau diukur pakai termometer digital yang ada rumah. Bukannya mau jadi orang Amerika, gak mau pakai ukuran derajat Celcius, tapi settingan termometernya berubah gara-gara tangan jahil anakku. Udah cari referensi dimana-mana, tapi tetap skalanya gak berubah. Jadi buat ngakalinnya, tiap kali ngukur suhu badan, selain menyiapkan termometernya, tapi juga harus disiapkan aplikasi chatGPT. Biar gak perlu hitung manual di kertas, seperti zaman SMP. Pusing kali kalau harus menghitung menggunakan rumus °C = (°F - 32) × 5/9.

Belakangan ini saya sering sakit. Hampir tiap bulan. Bulan Ramadhan kemarin pun sempat sakit, sehingga harus batal puasa selama 2 hari. Sakitnya macam-macam. Kadang batuk, kadang sakit kepala, kadang demam, yang paling gak enak kalau asam lambung saya kumat. Entah apa yang terjadi pada organ lambung saya ini. Padahal sudah diperiksa juga ke negara tetangga. Tapi hasilnya nihil. Saat konsultasi dengan dokter spesialis disana terkait berat badan yang turun drastis, dia bilang it’s good.. diet is good for your health.  Diet apanya. Saya tipikal orang pemakan semua. Makan ya makan aja. Istri saya sempat sedih. Udah masak banyak, pun udah dimakan juga suaminya. Tapi timbangan suami tak kunjung naik. Sedih kalau mendengar ucapan tetangga tentang suaminya yang kurus. Kayak gak pernah dikasih makan. 

Bulan ramadhan ini memang membawa berkah bagi semua. Terutama buat kaum perempuan yang ingin menurunkan badannya tanpa harus mengkonsumsi obat-obat aneh atau harus menghabiskan keringat di gym. Aktivitas puasa membantu penurunan berat badan secara alami. Berat badan ideal dapat, ibadahnya pun juga dapat. Dan itu terbukti. Istri saya turun berat badannya sekitar 5-6 kg. Bahagianya bukan main. Tapi istri saya kembali bersedih menghadapi kenyataan bahwa tidak hanya dia yang turun berat badannya. Tapi suaminya juga.  Hehe 

Karena demam, semalam saya pun tidur dengan menggunakan amunisi yang tidak main-main. Baju dua lapis. Celana panjang training. Penutup kepala. Dan tidak lupa sarung dan kaos kaki. Outfit ini mengingatkanku pada almarhum bapak. Saya tidak ingat tepatnya bapak sakit apa. Tapi yang membekas diingatan, tiap kali bapak sakit, pasti bapak menggunakan pakaian yang tebal. Kadang-kadang saya diminta untuk mengkompres punggung atau perut beliau dengan air panas. Dan sendawa-sendawa bapak saat sakit mengingatkanku akan kondisiku saat ini. 

Jadi terpikir, apa asam lambung itu genetik? Wallahu a’lam

Komennya dulu ee...