Mudik ke Rumah Sakit
Hari kedua lebaran kami mudik ke kampung istri. Udah jadi ritual tiap tahunnya. Nama daerahnya Serdang Bedagai, daerah pemekaran kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.Syukur alhamdulillah tahun ini kami bisa ke kampung mengendarai mobil sendiri. Meskipun mobil bekas, tapi kami gak ngutang. Lebih nyaman sih makainya.
Teringat beberapa tahun silam, saat kami mudik, saat itu naik mobil mertua. Disopiri pula sama orang lain, karena saya enggan membawa kendaraan yang bukan punya sendiri. Saat itu perasaan saya bercampur aduk antara sedih dan kesal. Saya berdoa semoga kami diberikan kelimpahan rejeki untuk bisa membeli kendaraan roda empat untuk keluarga tercinta. Alhamdulillah saat ini sudah terealisasi. Bahagianya bukan kepalang.
Perjalanan ke kampung ternyata tidak seindah yang direncanakan. Kami dikabari sanak keluarga disana, mbah Legini (nenek istri) terkena gejala stroke sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya kami gak jadi kerumah ke kampung, tapi banting stir ke rumah sakit yang ada dikampung. Mbah dirawat di kamar yang dinamai nama-nama bunga. Entah, akupun lupa namanya. Ruangannya yang masih teringat. Entah kenapa. Mungkin karena satu bed satu room satu pasien. Sehingga begitu nyaman, pasien di besuk satu rombongan dari Medan.
Mbah dijaga oleh Pale, anak bungsunya yang sudah beristri. Pun sudah punya anak. Anaknya banyak, tahun ini si lanang akan masuk pendidikan tentara.
Saat ditanya mbah seperti pasien Alzheimer. Susah mengingat nama-nama menantu, cucu apalagi cicitnya yang datang berkunjung. Saat melihatnya terbaring tak berdaya di ranjang, saya teringat wajahnya persis almarhum nenek saya yang ada di Baubau. Sempat terpikir, apa jangan-jangan mereka bersaudara. Bagiamana jika benar? Berarti saya dan istri masih ada ikatan keluarga dong.
Medan, 22 Maret 2026
Di atas ranjang pojok kamar

Komennya dulu ee...