Laman

Senin, 10 Juni 2019

Perihal Maskapai

Photo by Anugrah Lohiya from Pexels

Hal yang patut diapresiasi dari maskapai kepala singa adalah konsistennya. Ya, konsisten dalam hal delay. Dua tahun terakhir saya tidak pernah lagi menggunakan maskapai ini gara-gara kecewa. Kecewa karena. Banyak hal. Silahkan diisi dikolom komen. Saya gak perlu menceritakan sisi negatifnya toh mau gak mau saya tetap naik maskapai ini. Hari ini mengapa harus menggunakan maskapai ini? Karena tiket maskapai lain harganya meroket. Saya harus ikhlas balik satu hari lebih awal karena harga tiket pada hari Minggu, besok, sudah mencapai angka delapan juta rupiah. Bisa untuk tiga buah tiket destinasi Jakarta Medan untuk tarif 'normal' yang sudah gak normal lagi. Saya ingat tahun kemarin, dengan uang 600ribu saya sudah bisa ke Medan dengan maskapai berwarna hijau. Sekarang boro-boro. Dengan kondisi saat ini, uang 600ribu itu hanya untuk biaya bagasi pada maskapai kepala singa. Sudah mahal, bagasipun bayar. Selamat datang di negeri 62.

Boleh curhat dong. Sebagai seorang perantau, dimana alamat domisili berbeda dengan alamat KTP (baca : lintas pulau), pesawat adalah alat transportasi paling efisien. Dulu, sebelum tarifnya melambung. Zaman mahasiswa, kapal laut adalah transportasi paling primadona. Tiket murah tapi durasi bisa sampai separuh hari. Naik jam 7 malam, tibanya jam 7 malam. Kok gak naik kapal sekarang? Karena status saya adalah aparat pemerintah sekarang. Jadi sangat terikat dengan namanya cutay. Naik kapal bisa bisa aja, tapi konsekuensinya jatah cuti saya habis seminggu dijalan. Untuk jalan aja itu loh. Lah, family timenya kapan? Keburu cuti saya habis.

Makanya ketika pemerintah berniat untuk membuka ruang buat maskapai luar untuk masuk di Indonesia, saya sangat bersyukur, hampir aja sujud syukur. Dalam hati saya berucap, mungkin ini jalannya. Jalan keluar tiket yang kemahalan. Bukankah semakin banyak maskapai, maka semakin bersaing pula harga yang ditawarkan. Kayak operator sekarang. Harga paket data yang ditawarkan, gila gilaan gara gara operator yang bejibun. Tiga ratus enam puluh derajat kondisinya dengan maskapai saat ini yang dikuasa oleh dua biji perusahaan saja. Kontrol harga tiket ya mereka mereka aja. Dan ketika isu maskapai luar merebak, dua perusahaan ini pun protes dengan diksi yang sangat manis, "dapat membunuh maskapai lokal". Heloooo? Harga tiket saat ini diprotes jutaan orang perantau kayak saya loh!!!
.
.
.

Alhamdulillah, naik maskapai singa, saya dan puluhan penumpang lain mendarat dengan selamat di kota ibu tiri. Kota yang mengajarkan saya agar bisa menjemput rezeki sebanyak banyaknya agar tidak marah marah ketika harga tiket dinaikan. Memang benar kata para bijak, uang bukan segalanya, segalanya butuh uang. Dan saya tidak setuju kata bijak itu.
.
.
Wasalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komennya dulu ee...